Bikin Salut! Kisah Pria Bertato Antar Kakek Tak Dikenal Hingga Ke Kampung Halaman - Berita.Lagioke.Net

Bikin Salut! Kisah Pria Bertato Antar Kakek Tak Dikenal Hingga Ke Kampung Halaman


Memang sih kebanyakan penampilan akan menggambarkan karakter dan sifat dari seseorang, akan tetapi sebagai manusia kita juga tidak boleh berprasangka buruk secara langsung terhadap seseorang. Dikarenakan belum tentu luarnya demikian, namun memiliki hati yang berkebalikan.

Seringkali di antara kita mungkin akan langsung berprasangka buruk saat melihat seseorang yang penampilannya sangar seperti bertato. Padahal apa yang kita bayangkan belum tentu benar. Seperti kisah berikut.

Pria bertato ini (sebut saja Erik) menceritakan awal mula bertemu dengan kakek bernama Mbah Sajan (nama samaran). Semua berawal saat dirinya tengah mengantarkan istrinya bekerja di Pasar Bringharjo, Yogyakarta. Saat itu ia melihat Mbah Sajan sedang kebingungan dan menangis.

Erik kemudian mendekati Mbah Sajan dan diajaknya berbincang-bincang untuk mengetahui alasan kenapa dirinya nampak bingung dan menangis.

"Si Mbah itu awalnya takut saat saya tanya. Bayangin saja, didatangi orang gak dikenal seperti saya, bertato gini terus tanya-tanya macam-macam. Tapi setelah saya jelaskan maksud saya, Mbah Sajan akhirnya mau bercerita. Dia bilang habis ditipu orang dan kehabisan uang di Yogyakarta sehingga tidak bisa pulang ke Medan," ujar Erik.

Usai mendengarkan cerita Mbah Sajan, Erik lalu mengajak Mbah Sajan untuk makan. Awalnya, Mbah Sajan menolak ajakan tersebut namun Erik tetap membujuk dan pada akhirnya Mbah Sajan mau memenuhi ajakan Erik.

"Saya ajak makan. Awalnya ga mau tapi akhirnya mau. Bagi saya itu satu poin. Si Mbah Sajan sudah mulai percaya dengan saya," ungkap Erik.

Usai makan, Erik lalu mengajak Mbah Sajan untuk mampir ke rumahnya. Ajakan ini dilakukan karena ia melihat Mbah Sajan tak memiliki tempat tinggal di Yogyakarta, namun ajakan ini ditolak Mbah Sajan. Akhirnya, Mbah Sajan mau diajak ke sebuah pos kamling yang menjadi basecamp Erik dan komunitasnya.

"Diajak nginap di rumah saya gak mau. Katanya trauma. Saya ajak nginap di basecamp yang berupa pos kamling tempat saya dan komunitas saya kumpul ternyata malah mau. Saat di basecamp, Mbah Sajan kami belikan baju karena tidak punya baju ganti. Kami belikan juga tongkat baru karena tongkatnya untuk jalan hanya berupa pralon bekas," kata Erik.

Erik kemudian mengunggah foto Mbah Sajan ke group media sosialnya termasuk cerita tentang keinginan Mbah itu pulang ke Medan tetapi tak punya biaya. Usai mengunggah, ternyata ada salah seorang member grup yang mengirimkan pesan pribadi ke Erik.

"Ada perempuan dari Turi yang menjapri saya. Dia bilang siap menanggung biaya Mbah Sajan pulang ke Medan. Termasuk membelikan tiket pulang. Bahkan tiket saya mengantar Mbah Sajan sampai Medan juga ditanggung sama mbak itu," ungkap Erik.

Usai mendapatkan tiket pesawat, Erik dan komunitasnya mengurus surat jalan untuk Mbah Sajan ke kepolisian sebab Mbah itu tak memiliki identitas seperti KTP maupun SIM. Setelah itu, kemudian mengantar Mbah Sajan ke Medan. Sesampainya di Bandara Medan, Erik mendatangi Polsek terdekat. Tujuannya meminta bantuan karena dirinya tak paham daerah di Medan.

Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, akhirnya Erik mendapatkan konfirmasi dari pihak kepolisian. Erik kaget mendengar informasi yang diceritakan Mbah Sajan ternyata berbeda dengan cerita sebenarnya. Ternyata, Mbah Sajan sudah meninggalkan rumah selama 40 tahun karena permasalahan keluarga.

Erik pun kemudian mendapatkan informasi jika Mbah Sajan memiliki tujuh orang anak dan salah seorangnya telah meninggal. Erik kemudian menghubungi 5 anak Mbah Sajan lainnya. Dari kelima anak itu, hanya anak Mbah Sajan di Binjai yang mau menerima Mbah Sajan.

"Jam 12 Mbah Sajan dijemput oleh anaknya yang dari Binjai. Persis kayak film India waktu itu. Begitu ketemu Mbah Sajan anaknya langsung lari, memeluk dan menangis. Mungkin karena sudah 40 tahun gak ketemu. Senang rasanya bisa menyatukan keluarga yang telah terpisah," tutur Erik.

Menolong orang yang tengah kesusahan bukanlah hal baru bagi Erik dan komunitasnya. Ia kerap kali melakukan kegiatan sosial utamanya bagi para warga Yogyakarta yang mengalami kesulitan. Di antaranya dengan membantu pengemudi jalan yang bannya bocor saat malam hari, melakukan pengawalan bagi orang yang tidak berani pulang karena kemalaman hingga memerbaiki kendaraan yang rusak di malam hari. Semuanya ini dilakukan oleh Erik dan komunitasnya tanpa tarikan biaya.

"Niat kami adalah menebarkan virus kebaikan. Bukan mencari imbalan atau pujian. Imbalan saya adalah melihat senyum dari orang yang kami tolong. Itu sudah cukup," ujarnya.

Nah, bagaimana menurut sahabat semua? Bila ada pendapat atau masukan silakan tulis di kolom komentar ya. Jangan lupa berikan like & share juga lalu klik ikuti bila menyukai postingan ini. Terima kasih.

Sumber: m.merdeka.com dengan analisis pribadi

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Bikin Salut! Kisah Pria Bertato Antar Kakek Tak Dikenal Hingga Ke Kampung Halaman"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel