Kisah Haru, Penyesalan Seorang Anak Yang Tak Menghargai Ibunya - Berita.Lagioke.Net

Kisah Haru, Penyesalan Seorang Anak Yang Tak Menghargai Ibunya


Seperti apapun rasa tidak suka terhadap seorang ibu, janganlah sampai membenci, membentak atau membuat mereka merasakan hal pahit dari anaknya. Dikarenakan memang tidak ada martabat yang jauh lebih tinggi daripada telapak kaki ibu, dimana merupakan tempat surga bagi sang anak-anaknya.

Orangtua adalah tempat kita untuk berbakti. Selagi mereka masih ada bersama kita, manfaatkanlah waktu bersama dengan sebaik-baiknya. Curahkan seluruh kasih sayang kita untuk mereka. Seberapa banyak pun kita berbakti pada orangtua maka tidaklah sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan oleh orangtua pada kita. Kisah berikut ini sangat menjadi pelajaran buat kita, betapa pentingnya waktu yang tersedia untuk kita bisa berbakti pada orangtua.

Referensi pihak ketiga

Ada seorang lelaki yang terlihat sangat membenci ibunya. Dia sangat membenci sang ibu hanya karena ibunya ini memiliki satu mata. Dengan keadaan sang ibu ini dia sering diejek oleh teman-temannya.

Aku benci bagaimana anak-anak lain menatapnya dan memalingkan muka dengan jijik.

Setiap kali ibu saya datang ke sekolah untuk mengunjungi saya. Saat itu rasanya aku ingin dia menghilang. Bahkan pada suatu waktu, ketika aku ingin meluapkan kemarahan ekstrim, aku bahkan pernah mengatakan padanya bahwa saya ingin dia mati. Aku benar-benar tidak peduli tentang perasaannya.

Kini aku sudah menikah dan mulai membesarkan keluargaku sendiri. Aku sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluargaku. Aku bahkan tidak memikirkan dan mengingat ibuku lagi.

Namun tidak disangka, suatu hari ibuku datang untuk mengunjungi rumahku. Wajah bermata satunya membuat anak-anakku takut, dan mereka mulai menangis. Aku sangat marah pada ibuku karena muncul mendadak dan aku melarang dia masuk. Kemudian aku berkata, “Jangan pernah kembali ke rumah saya dan kehidupan keluarga baru saya..!”.Aku berteriak, tapi ibu saya hanya diam dan meminta maaf, lalu pergi tanpa mampu berkata-kata apapun lagi.

Pada suatu hari, aku terpaksa menghadiri sebuah undangan untuk reuni sekolah tinggi sehingga membawa aku kembali ke kampung halaman setelah puluhan tahun lamanya. Akhirnya aku melewati rumah masa kecilku dan mampir ke gubuk tua tersebut. Tetanggaku mengatakan padaku bahwa ibuku sudah meninggal dan meninggalkan surat untukku.

“Anakku sayang :

Ibu harus memulai surat ini dengan meminta maaf karena telah mengunjungi rumahmu tanpa pemberitahuan dan menakuti anak-anakmu yang cantik. Ibu juga sangat menyesal karena ibu adalah wanita yang memalukan dan sumber penghinaan bagimu, ketika kamu masih kecil sampai tumbuh dewasa.

Ibu sudah mengetahui bahwa kamu pasti akan datang kembali ke kota ini untuk reuni sekolah. Ibu mungkin tidak lagi berada di tempat ini ketika nanti kamu datang, dan ibu pikir itu adalah waktu yang tepat untuk memberitahumu sebuah insiden yang terjadi ketika kamu masih kecil.

Tahukah kamu, anakku sayang? Kamu mengalami sebuah kecelakaan dan kehilangan satu mata. Ibu sangat terpukul karena terus memikirkan bagaimana nasib anakku apabila anak ibu tercinta tumbuh hanya dengan satu mata. Ibu ingin kamu dapat melihat dunia yang indah dengan sempurna, jadi ibu memberikan padamu sebelah mata ibu.

Anakku sayang, ibu selalu memilikimu dan akan selalu mencintaimu dari lubuk hati ibu yang terdalam. Ibu tidak pernah menyesali keputusan ibu untuk memberikan mata ibu. Dan ibu merasa tenang ketika ibu mampu memberikan kamu kemampuan untuk menikmati hidup yang lengkap.

Dari : Ibumu tersayang.”

Aku terduduk dan hampir pingsan sehabis membaca surat dari ibu. Penyesalanku kini sudah terlambat. Bahkan airmataku kini juga sudah tidak ada artinya.

Pelajaran hidup yang sangat berharga. Jangan pernah kita menyakiti perasaan orang tua. Karena kita tidak pernah tahu apa saja yang telah dilakukan oleh orang tua kita sehingga kita bisa menjadi seperti sekarang ini.

Referensi pihak ketiga

(RR)

Sumber :
vemale.com
idntimes.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Haru, Penyesalan Seorang Anak Yang Tak Menghargai Ibunya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel