Kisah Nyata: Botol Acar, Saksi Hidup Kecintaan Sang Ayah Terhadap Anaknya yang Mengharukan - Berita.Lagioke.Net

Kisah Nyata: Botol Acar, Saksi Hidup Kecintaan Sang Ayah Terhadap Anaknya yang Mengharukan


Terkadang suatu hal kecil saja bisa dijadikan pembelajaran bagi kehidupan, tergantung dari bagaimana kita menyikapinya dan menanggapi terkait hal kecil tersebut. Dan sebagai seorang anak yang masih polos, terkadang ia tidak tau apa yang dilakukan orang tuanya sehingga membuatnya tertarik terhadap hal tersebut, termasuk diantaranya botol acar.

Alkisah ada seorang pemuda berkisah, "Setahuku botol acar besar itu selalu ada di lantai di samping lemari kamar orang tuaku. Sebelum tidur, ayah selalu mengosongkan kantong celana, lalu memasukkan uang recehnya ke dalam botol. Sebagai anak kecil, aku senang dengan bunyi gemerincing koin yang dijatuhkan ke dalam botol. Aku suka jongkok di lantai di depan botol itu, seperti harta karun bajak laut ketika sinar matahari menembus jendela kamar tidur.

Jika isinya sudah penuh, ayah menuangkan koin-koin di atas meja dapur, menghitung jumlahnya, kemudian membawanya ke bank. Membawa koin-koin ke bank selalu menjadi peristiwa besar. Setiap kali kami pergi ke bank, ayah memandangiku dengan penuh harap. ”Karena koin-koin ini kau tidak perlu kerja di pabrik tekstil. Nasibmu akan lebih baik dari nasibku. Kota tua dan pabrik tekstil di sini tak akan bisa menahanmu.

Setiap kali menyorongkan kotak kardus berisi koin itu ke kasir bank, ayah selalu tersenyum bangga. ”Ini uang kuliah putraku. Dia takkan kerja di pabrik seumur hidup seperti aku.”

Pulang dari bank, kami selalu merayakan peristiwa itu dengan membeli es krim. Aku selalu memilih es krim cokelat dan ayah selalu memilih rasa vanili. Setelah menerima kembalian dari penjual es krim ayah selalu menunjukkan beberapa keping koin kembalian itu kepadaku.” sampai di rumah, kita isi botol itu lagi.”

Ayah selalu menyuruhku memasukkan koin-koin pertama ke dalam botol yang masih kosong. Ketika koin-koin itu jatuh gemerincing nyaring, kami selalu berpandangan sambil tersenyum. ”Kau akan bisa kuliah berkat koin itu, ”katanya. “kau pasti bisa kuliah, ayah jamin.”

Tahun demi tahun berlalu, aku memang berhasil diterima kuliah, lulus dari Universitas dan mendapat pekerjaan di kota lain. Pernah, waktu mengunjungi orang tuaku, aku menelepon dari kamar tidur merek. Tak ku temukan lagi botol acar. Botol acar sudah menyelesaikan tugasnya dan sudah dipindahkan ke tempat lain, entah kemana. Leherku serasa tercekat ketika mataku memandangi lantai di samping botol acar itu diletakkan.

Ayahku bukan orang yang banyak bicara. Dia tak pernah ceramahi aku betapa penting tekad yang kuat, ketekunan dan keyakinan. Bagiku, botol acar telah mengajarkan nilai-nilai yang lebih nyata.

Setelah menikah, kuceritakan pada Susan, istriku, betapa pentingnya botol acar yag tampak sepele itu. Bagiku, botol acar melambangkan betapa besarnya cinta ayahku kepadaku.

Bahkan ketika musim panas dan ayah diberhentikan dari pabrik, terpaksa kami makan buncis kalengan selama berminggu-minggu, satu keping perak pun tak pernah diambil dari botol acar itu. ”Kalau kau sudah tamat kuliah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. ”kau tak perlu makan buncis kecuali kau memang mau.”

Setelah putri pertama kami lahir, Jesica, kami menghabiskan waktu di rumah orang tuaku. Setelah makan malam, ayah dan ibu berdampingan duduk di sofa bergantian memandang cucu pertama mereka. Jesica menangis lirih. Kemudian Susan mengambil dari pelukan Ayah, ”Mungkin popoknya basah,” kata Susan. Lalu menggantinya ke kamar tidur orang tuaku. Tak sengaja dia melihat botol acar itu.

Di lantai kamar orang tuaku seakan tidak pernah disingkirkan, berdiri botol acar yang sudah tua. Di dalamnya, ada beberapa keping koin. Aku mendekati botol itu, merogoh saku celanaku, dan mengeluarkan segengam koin. Dengan perasaan haru, kumasukkan koin-koin itu ke dalam botol.

Aku mengangkat kepala dan melihat ayah. Dia menggendong Jesica dan tanpa suara telah masuk ke kamar. Kami berpandangan. Aku, ayah juga merasakan keharuan yang sama. Kami tak kuasa berkata-kata.

“Bukan kata-kata atau kekayaan yang diwariskan ayah untuk anak-anaknya. Namun, sesuatu yang tak terucapkan, yaitu keteladanan sebagai seorang pria dan ayah.”-Will Rogers.

Nah, bagaimana menurut Sahabat UCers, Bila ada masukan atau pendapat silahkan tulis di kolom komentar ya! Jangan lupa like & share apabila kalian menyukai postingan ini. Semoga bermanfaat!

Sumber: Diambil Dari Buku Berjudul Kisah-Kisah Paling Mengharukan Di Dunia 2 Karya Akhmad Siradz

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Nyata: Botol Acar, Saksi Hidup Kecintaan Sang Ayah Terhadap Anaknya yang Mengharukan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel