Kisah Wawan Mengayuh Becak dengan Satu Kaki dan Cerita Tentang Keputusan Amputasi - Berita.Lagioke.Net

Kisah Wawan Mengayuh Becak dengan Satu Kaki dan Cerita Tentang Keputusan Amputasi


Pada dasarnya menjadi tukang becak memang membutuhkan kekuatan fisik banget, terlebih ketika penumpangnya membawa barang berat tentu malah menjadi beban tersendiri.

Betapa sulitnya memang kalau pekerjaan yang mengandalkan fisik seperti ini dilakukan oleh orang yang cacat fisik. Tapi itu tidak menghalangi semangat Wawan.

Meski kondisi fisik yang tak sempurna, hanya memiliki satu kaki, Wawan terlihat tetap bersemangat mengayuh becak menuju area Taman Pintar untuk mencari penumpang

Panas matahari yang cukup terik tak menyurutkan semangat warga di sekitaran Pasar Beringharjo dan Taman Budaya Yogyakarta untuk beraktifitas.

Di sela-sela keramaian pasar tradisional terbesar di DIY tersebut, terlihat seorang pengendara becak yang tertatih-tatih mendorong becaknya untuk mencari penumpang.

Penampilan tukang becak yang satu ini berbeda dengan yang lainnya.

Sepasang kruk, alat bantu jalan untuk penyandang disabilitas terikat di samping kanan becaknya.

Setelah diperhatikan lebih seksama, pria yang mengaku bernama Wawan (48) ini ternyata merupakan seorang penyandang difabilitas.

Meski kondisi fisik yang tak sempurna, hanya memiliki satu kaki, Wawan terlihat tetap bersemangat mengayuh becak menuju area Taman Pintar untuk mencari penumpang.
Setelah sampai, di bawah rindangnya pohon, Wawan duduk di becaknya dan bercengkrama dengan tukang becak lainnya sembari bercanda tawa untuk menghilangkan rasa lelah.

Sejak 90an

Ditemui Tribunjogja.com, Wawan mengaku sudah menekuni profesi sebagai tukang becak sejak tahun 1990 silam.

"Saya sudah menjalani profesi ini sejak tahun 90an, tapi dulu masih sewa becak," ujarnya, Sabtu (3/8/2019).

Selama 22 tahun, dia sudah menjalani profesi ini tanpa kendala.

Namun kecelakaan yang dialami pada 2013 silam membuat kehidupannya berubah total.

Saat hendak berangkat kerja, Wawan terperosok ke dalam sebuah lubang yang membuatnya tak sadarkan diri.

"Saat itu lagi mau berangkat kerja, jalan kaki seperti biasa. Tiba-tiba jatuh ke lubang," tuturnya.

"Saya gak sadar, setelah sadar saya sudah dirawat. Kalo cerita dari yang menolong, saya masuk ke lubang bekas bakaran sampah," imbuhnya.

Setelah perawatan dia kembali menjalani aktivitas sebagai tukang becak.

Saat itu kondisinya belum puluh seratus persen.

Namun meski masih sakit, Wawan tetap nekad melakoni profesinya sebagai tukang becak.

Tuntutan sebagai tulang punggung keluarga memaksanya tetap menjalani profesi ini.

"Saya langsung kerja lagi, tapi masih terasa sakit. Sampai ada rombongan sedekah rombongan yang melihat, lalu saya ditawari untuk berobat," katanya.

Saat menjalani pengobatan, Wawan dirujuk menuju RSPAU Hardjolukito.

Amputasi

Namun dokter di sana menyarankan untuk mengamputasi kakinya.

"Dokter bilang kaki saya harus diamputasi, biar infeksinya gak menyebar sampai kemana-mana," jelasnya

Wawan mengakui bahwa dia tidak gentar ketika waktu itu disarankan untuk dilakukan tindakan amputasi.

"Yang penting saya bisa sembuh, jadi nggak ada rasa takut atau apapun saat itu," jelasnya.

Setelah amputasi dilakukan, Wawan sempat mendapatkan perawatan selama 16 bulan yang dibiayai oleh sedekah rombongan.

Pasca perawatan, Wawan masih melanjutkan profesinya sebagai tukang becak.

Wawan mengakui bahwa awalnya dulu dia sempat dibelikan kaki palsu untuk membantu aktivitasnya.

"Habis operasi dulu dibelikan kaki palsu sama sedekah rombongan, tapi sudah rusak 2 tahun yang lalu," cetusnya.

Kaki palsu tersebut menurut Wawan sangat membantu dirinya dalam menjalankan profesi sebagai tukang becak.

"Kaki palsunya sebenarnya sangat membantu, saya bisa jalan normal seperti biasa. Ya walaupun untuk mengayuh rasanya sedikit aneh," tuturnya.

Tak mau merepotkan

Pria yang sejak kecil telah dituntut untuk mandiri ini mengaku akan terus bekerja walaupun kondisinya tidak seperti dulu lagi.

"Pedoman saya itu bisa bekerja sendiri tanpa merepotkan orang lain, yang penting kerjaan saya halal," ujarnya.

"Saya dari kecil sudah jualan koran, jualan minuman di bus-bus, apapun itu saya kerjakan," imbuhnya.

Saat ditemui tribunjogja.com Wawan tiba-tiba didatangi oleh seorang ibu dan anaknya, yang membawakannya sebuah pisang dan jeruk untuk dimakannya.

Terdengar tariakan 'bapak', dari mulut mungil anak tersebut saat menghampiri Wawan yang tengah duduk dalam becaknya.

"Itu bukan anak saya, saya cuma bantu merawat saja. Sebenarnya itu anak teman saya, tapi sekarang sudah meninggal," jelasnya.

Wawan menceritakan bahwa dia selama ini membantu memberikan sedikit uang yang didapatkannya untuk kebutuhan anak tersebut.

"Kasian, bapaknya sudah nggak ada. Nggak ada yang perduli juga sama mereka," ujarnya.

Saat ditanya kesehariannya, Wawan mengakui bahwa dia tidur di becaknya.

"Sehari-hari saya tidur di becak ini, kalo kangen sama pakdhe baru pulang kerumah," tuturnya.

Penghasilan tak tentu

Wawan juga menceritakan jika sekarang penghasilannya tidak menentu.

"Kadang dapat 20.000 kadang 50.000, bahkan kadang nggak dapat apa-apa," jelasnya.

Walaupun demikian dia tetap bersyukur, di luar sana masih banyak orang yang perduli dengan kondisinya.

"Syukurlah mas, terkadang ada yang beri lebih padahal saya nggak matok harga. Sukarela saja," ujarnya.

Wawan juga mengakui bahwa kruk yang dibawanya merupakan hadiah dari seorang penumpang.

"Ini kruk juga dari penumpang 2 tahun lalu, dulu saya antar ke pasar. Malah di bawa ke rumah sakit, karena bekas operasi pertama masih sering terasa sakit," katanya.

"Itu saya dibawa ke Panti Rapih, operasi lagi. Di sana tiga hari, pulang-pulang saya ngga boleh turun dari mobil. Malah diajak beli kruk," pungkasnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Wawan Mengayuh Becak dengan Satu Kaki dan Cerita Tentang Keputusan Amputasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel