Malu Ayahnya Cuma Tukang Angkat Gas, Ia Pun Berbohong Kalau Ayahnya Bawa Mercy. Ternyata - Berita.Lagioke.Net

Malu Ayahnya Cuma Tukang Angkat Gas, Ia Pun Berbohong Kalau Ayahnya Bawa Mercy. Ternyata


Sebagai seseorang kita tidak boleh bersikap sombong, terlebih melebih-lebihkan sesuatu yang mungkin masih belum bisa diraih untuk sekarang ini. Hal semacam ini bukan akan mengangkat derajat diri kita secara instant, melainkan malah bisa menyusahkan kita sendiri. Dan sepertinya kisah berikut dapat diambil pelajarannya.

Tidak dapat dipungkiri kalau setiap orang pasti pernah berbohong. Entah itu tujuannya baik atau tidak, yang pasti akan selalu ada hal yang ingin disembunyikan seseorang tentang dirinya.

Alkisah. Ada seseorang (sebut saja WA) yang membagikan kisahnya dan ayahnya. Dulunya, WA adalah seseorang yang sangat gengsian. Ia berbohong kepada teman-temannya kalau ayahnya adalah seseorang yang kaya raya dan mengendarai mobil mercy. Seperti kisah berikut.

Dulu di kelas WA ada seorang murid bernama Ali (nama samaran). Ali berasal dari keluarga yang kaya karena bapaknya saeorang pengusaha besar. Tiap kali ada mainan baru, gameboy, pokemon dan segala macam, pasti ia yang pertama dibelikan dan Ali pun akan membawanya ke sekolah untuk pamer ke teman-temannya. Semua orang di kelas pun iri dengan Ali.

Suatu ketika, guru menugaskan para murid untuk menulis PR tentang pekerjaan orang tua mereka. Pada jam istirahat, murid-murid pun ramai membicarakan tentang pekerjaan orang tua mereka sendiri. Ali juga ikut bercerita kalau ayahnya adalah seorang bos perusahaan besar. Mainan baru apa saja pun pasti selalu dibelikan untuknya. Ali juga bilang kalau ayahnya mengendarai mobil mewah Mercy.

Referensi pihak ketiga

Terakhir, Ali lalu bertanya kepada WA, "Apa pekerjaan ayahmu?"

WA pun bingung harus jawab apa. Ayahnya hanya seorang tukang angkat gas, mengendarai motor kawasaki, di belakang motornya terpasang kerangka untuk tempat taruh gas, dan juga ada tali pengikat tabung gasnya. Baju ayahnya selalu terlihat kotor dan bau keringat.

Ia pun merasa malu dengan ayahnya sendiri. Tidak seperti ayah-ayah yang lain, memakai baju rapi, duduk di kantor, ayahnya hanya kuli angkat barang.

Ia pun nekat berbohong kepada temannya, "Ayahku juga bos kok, sama kayak ayahmu bawa mercy juga."

Semua orang pun iri juga pada WA, tapi ada juga yang curiga kalau ia berbohong. Tak diduga, 2 hari kemudian adalah parent's day di sekolah mereka, dimana hari itu orang tua harus datang ke sekolah melihat anak mereka mengikuti pelajaran.

Ayah WA pun sangat senang dan bermaksud untuk meminta izin sehari untuk mengunjungi sekolahnya. Tapi WA tiba-tiba berkata, "Yah, parent's day ayah gak usah hadir yah?"

Tadinya sang ayah bingung kenapa, namun setelah mendengar cerita anaknya tersebut, sang ayah malah ketawa, tidak marah pada WA.

Hari Parent's Day itu pun tiba. WA duduk di tempat duduknya, gugup karena takut kebohongannya tentang ayahnya ketahuan oleh teman-temannya. Satu demi satu orang tua masuk ke dalam ruangan kelas. Ayah Ali yang pertama datang, lalu disusul ayah WA. Tapi sekali ia menoleh ke belakang melihat ayahnya, WA terkejut bukan main.

Ayahnya mengenakan kaus POLO berkerah, kumisnya dicukur, rambutnya rapi, dan sepatunya pun sepatu kulit. Ayahnya beda sekali hari itu. Adi merasa senang namun dalam hatinya masih takut, takut nanti pulang sekolah teman-temannya menanyakan, "Mana Mercynya?"

Saat jam istirahat, WA berbisik kepada ayahnya, "Yah, ayah pulang duluan deh, nanti sorean baru jemput saya lagi."

Ayahnya bersikeras menunggu sampai jam pulang. Dalam hati, WA sudah pasrah kebohongannya akan ketahuan.

Tapi siapa sangka, ketika pulang sekolah, jalan ke parkiran, WA melongo melihat ayahnya beneran bawa Mercy ke sekolah! WA pun hampir tak percaya. Teman-teman WA melihatnya naik ke mobil Mercy bersama ayahnya dan keluar dari gerbang sekolah.

Di mobil, WA penuh dengan tanda tanya, tapi ayahnya hanya tersenyum dan tidak menjawab. Sang ayah pun mengendarai mobil ke agen gas tempat ia bekerja. Ketika ayahnya turun dari mobil, bos agen gas pun berkata sambil tertawa, "Gimana? Lancar jemput anak kamu?"

Ayah WA hanya menjawab, "Iya, pak! Makasih yah sudah dipinjemin! Maaf merepotkan."

Si bos pun mengelus-elus kepala WA, "Kecil-kecil sudah tahu gengsi yah kamu? Coba kamu angkat tabung gas kecil itu di sana!" suruh si bos.

WA pun mencoba mengangkat tabung itu, tapi ia tidak kuat. Tabung gasnya baru bergeser sedikit saja.

Si bos pun tertawa, "Ah, masa gitu aja gak kuat? Lihat ayahmu! Ayahmu satu tangan saja sudah bisa!"

Ayah WA pun berkata, "Bapak ngomong apa ini? Saya mau anak saya sekolah baik-baik, nanti sudah lulus bisa kerja diterima kerja di perusahaan besar, jangan seperti saya, suruh dia angkat-angkat barang gitu mana bisa dia?"

WA pun teringat, dulu waktu hujan, ayah paling senang karena tidak usah antar gas. Kalau antar maka duitnya jadi 2 kali lipat, jadi ayahnya pun yang paling pertama masuk kerja. 40 kilo, satu rumah, 10 ribu. WA juga teringat, semua mainannya, makanan kesukaannya, semua datang dari keringat ayahnya.

"Yang ayah pikul bukanlah tabung gas, melainkan biaya hidup kita satu keluarga. Kalau begitu, aku ngapain peduli sama pandangan teman-teman?" ucap WA dalam hati.

Sahabat. Pekerjaan tidak memandang tinggi rendah. Orang tua yang bekerja banting tulang demi keluarga adalah sesuatu yang patut dibanggakan, bukan memalukan. Tidak perlulah gengsi cuma karena soal materi. Bersyukurlah selalu dengan apa yang orang tua kita berikan kepada kita. Wallahu a'lam.

Referensi pihak ketiga

Nah, bagaimana menurut sahabat semua? Bila ada pendapat atau masukan silakan tulis di kolom komentar ya. Jangan lupa berikan like & share juga lalu klik ikuti bila menyukai postingan ini. Terima kasih.

Sumber: cerpen.co.id dengan analisis pribadi

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Malu Ayahnya Cuma Tukang Angkat Gas, Ia Pun Berbohong Kalau Ayahnya Bawa Mercy. Ternyata"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel