Tubuh Tetap Perlu Vitamin D meski Sudah Divaksin, Apa Alasannya? - Berita.Lagioke.Net

header

Tubuh Tetap Perlu Vitamin D meski Sudah Divaksin, Apa Alasannya?


Ketika sudah mendapatkan vaksin COVID-19 dosis penuh, tak sedikit orang berpikir bisa kembali hidup normal—tanpa menggunakan masker dan memutuskan untuk berkerumun.


Ya, banyak yang menganggap diri akan langsung kebal terhadap virus setelah mendapatkan vaksin. Padahal, orang yang sudah divaksin masih bisa terinfeksi virus corona. Hal itu disampaikan oleh Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof. Amin Soebandrio.


Dalam penjelasannya, Prof Amin menyampaikan, seseorang terinfeksi COVID-19 meski sudah divaksin memang mungkin terjadi. Sebab, pembentukan antibodi pascaimunisasi memang memerlukan waktu sekitar satu bulan, atau bahkan lebih.


Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk abai protokol kesehatan meski sudah divaksin. Apalagi efek vaksin bisa bervariasi, mulai dari ngantuk, rasa pegal, hingga lemas. Bahkan ada juga yang tidak mengalami efek sama sekali. Efek yang berbeda setelah divaksin tergantung dari daya tahan tubuh orang tersebut.


Selain tetap menaati protokol kesehatan seperti menjaga kebersihan diri dan menjaga jarak, kita juga harus memastikan asupan dengan kombinasi lengkap yang berfungsi memperkuat daya tahan tubuh agar vaksin jadi lebih maksimal. Misalnya dengan mengonsumsi vitamin D.


Merupakan salah satu nutrisi esensial bagi tubuh, vitamin D tidak hanya memperkuat tulang dan gigi, ia juga dapat meningkatkan kesehatan otak dan saraf, mengurangi risiko penyakit seperti diabetes bahkan kanker, meningkatkan sistem imun, serta mendukung fungsi dan kesehatan sistem pernapasan.


Vitamin D tidak bisa dihasilkan oleh tubuh, melainkan didapat dari dua cara: berjemur dan mengonsumsi sumber makanan yang mengandung vitamin D, seperti tuna, salmon, telur, atau susu. Namun sayangnya, meski beriklim tropis dengan sumber vitamin D yang tinggi dari sinar matahari, beberapa penelitian justru menunjukkan fakta bahwa penduduk Indonesia rentan mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin D.


Data dari The South East Asian Nutrition Surveys (2011-2012) mengungkapkan, tiga terbanyak orang Indonesia yang kekurangan vitamin D yaitu ibu hamil (61,25 persen), perempuan dewasa yang berusia 18-40 tahun (63 persen), dan usia lanjut (78,2 persen).


Lantas, mengapa penduduk Indonesia yang beriklim tropis justru bisa mengalami defisiensi vitamin D? Padahal sederet manfaat yang dihadirkan, vitamin D justru menjadi sangat penting—terlebih di masa pandemi COVID-19.


Alasan pun beragam. Mulai dari mengenakan pakaian tertutup saat keluar rumah hingga banyaknya beraktivitas atau berdiam di dalam ruangan, terutama di masa pandemi yang memang mengharuskan kita untuk memaksimalkan kegiatan di rumah aja.

Tak heran, saat pandemi COVID-19 menyerang, himbauan berjemur gencar disosialisasikan.


Pemandangan orang-orang berjemur di bawah sinar matahari pagi pun menjadi kelaziman. Sebab pembatasan aktivitas di luar ruangan selama pandemi membuat asupan vitamin D jadi berkurang.


Kendati demikian, berjemur di bawah matahari tidak menjamin vitamin D pada tubuh tercukupi. Terlebih lagi banyak orang yang juga tidak sempat untuk berjemur akibat tuntutan pekerjaan yang membuat mereka harus berjibaku di pagi ‘buta’. Oleh karena itu, penting juga memastikan tubuh sudah mendapatkan cukup Vitamin D dengan melakukan medical check up untuk skrining vitamin D atau melalui tes genggaman tangan seperti video experiment di bawah ini.


Ya, kekurangan vitamin D dapat menimbulkan gangguan yang cukup serius bagi seseorang. Selain cara di video tersebut, ada beberapa tanda dan gejala yang dapat diamati apabila tubuh mengalami kekurangan vitamin D dalam darah, seperti sering mengalami gangguan mood atau stres, merasakan nyeri tulang dan mudah lelah, kepala cenderung berkeringat saat tidur, kulit berubah menjadi lebih gelap, dan mengalami peningkatan berat badan (obesitas).


Jika sudah mengalami hal itu, segera ambil tindakan pencegahan agar tidak terjadi efek kekurangan vitamin D lebih lanjut. Caranya dengan mengonsumsi Sakatonik Activ D3-1000, suplemen vitamin D yang praktis, cepat, dan aman untuk dikonsumsi harian.


Konsumsi Sakatonik Activ D3 1000 sebagai cara meningkatkan daya tahan tubuh


Sakatonik Activ D3 1000 mengandung vitamin D dalam bentuk D3 atau cholecalciferol. Kandungan ini merupakan bentuk vitamin D yang lebih siap digunakan dan cepat diserap oleh sistem pencernaan tubuh.


Sakatonik Activ D3 1000 sudah memenuhi rata-rata konsumsi vitamin D yang dianjurkan, yakni 1.000-4.000 IU per hari sehingga cukup untuk menjaga imunitas dan kebutuhan vitamin D harian.


Suplemen ini hadir dalam bentuk tablet ukuran kecil yang mudah untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah atau diminum dengan segelas air putih. Anda bisa mendapatkannya di apotek atau toko obat terdekat, dan e-commerce kesayangan Anda.


Yuk penuhi kebutuhan vitamin D Anda agar imunitas tetap terjaga. Sebab meski sudah di vaksin, penting untuk tetap menjaga imunitas dan menerapkan protokol kesehatan.





Sumber : Kumparan

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tubuh Tetap Perlu Vitamin D meski Sudah Divaksin, Apa Alasannya?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel