5 Fakta Vaksin Covid-19 untuk Anak - Berita.Lagioke.Net

5 Fakta Vaksin Covid-19 untuk Anak


Vaksin Covid-19 adalah sebuah vaksin inaktivasi terhadap Covid-19 yang menstimulasi sistem kekebalan tubuh tanpa risiko menyebabkan penyakit.

Program vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 6-11 tahun mulai dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia pada Selasa (14/11/2021).

Sebanyak 6,4 juta dosis vaksin Sinovac disediakan untuk program vaksinasi Covid-19 usia anak tersebut hingga Desember 2021.

"Kemudian Januari 2022 akan ada tambahan vaksin Sinovac dari Dirjen Farmalkes dan sudah datang," kata Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwo dalam keterangan pers dari laman resmi Kemenkes pada Senin (13/11/2021).

"Sehingga ini tidak akan putus," imbuh Maxi tentang vaksinasi Covid-19 untuk anak.

Berikut fakta-fakta tentang vaksin Covid-19 untuk anak yang perlu diketahui, mengutip dari berbagai sumber:

  • 1. Vaksin untuk memutus infeksi Covid-19

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) mengatakan rekomendasi vaksin Covid-19 untuk anak dikeluarkan karena anak juga dapat tertular virus corona dari orang lain di sekitarnya meski tanpa gejala.

Oleh karena itu, penting mengontrol secara teratur penularan dan transmisi Covid-19 di Indonesia.

Untuk memutus penularan timbal balik antara orang dewasa dan anak selain dengan upaya protokol kesehatan yang ketat, perlu dilakukan percepatan vaksinasi pada orang dewasa dan anak, terutama pada remaja dengan mobilitas tinggi, sebagaimana yang dikutip dari berita Kompas sebelumnya.

Kasus positif Covid-19 pada anak Indonesia menurut data covid19.go.id pada 28 Juni 2021:

  • Umur 0-18 tahun: 12,6 persen. Artinya 1 dari 8 orang yang tertular Covid-19 adalah anak.

  • Umur 1–5 thn: 2,9 persen

  • Umur 6–18 tahun: 9,7 persen.

Angka kematian pada anak karena Covid-19:

  • Umur 1-5 tahun: 0,6 persen

  • Umur 6–18 tahun: 0,6 persen

Sementara, Data Satuan Tugas Covid-19 Nasional per 1 November 2021, proporsi kasus anak terinfeksi sebesar 13 persen.

Mengutip WHO, kasus menurut usia yang dilaporkan organisasi PBB tersebut dari 30 Desember 2019 hingga 25 Oktober 2021 menunjukkan bahwa:

  1. Anak-anak di bawah usia 5 tahun berkontribusi 2 persen (1.890.756) dari kasus konfirmasi dan 0,1 persen (1.797) dari kematian global yang dilaporkan.

  2. Anak-anak 5-14 tahun berkontribusi 7 persen (7.058.748) dari kasus konfirmasi dan 0,1 persen (1.328) dari kematian global yang dilaporkan.

  3. Anak-anak 15-24 tahun berkontribusi 15 persen (14.819.320) dari kasus dikonfirmasi dan 0,4 persen (7.023) dari kematian global yang dilaporkan.

  4. Kematian untuk semua usia kurang dari 25 tahun berkontribusi kurang dari 0,5 persen dari kematian global yang dilaporkan.

  • 2. Vaksin Covid-19 aman untuk anak

IDAI menyatakan bahwa vaksin Covid-19 terbukti aman dan efektif dalam mencegah sakit berat hingga kematian akibat Covid-19, sebagaimana yang dikutip dari situs resmi IDAI.

Jadi, ikut serta dalam program vaksinasi Covid-19 adalah upaya terbaik untuk memperlambat penyebaran Covid-19.

Hingga saat ini terdapat beberapa laporan kasus kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang serius, antara lain:

  • Miokarditis atau perikarditis: peradangan pada otot jantung (miokarditis) dan selaput jantung (perikarditis).

  • Guillain-Barre Syndrome: kondisi langka yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang sistem saraf.

  • Trombosis dengan sindrom trombositopenia (TTS): terbentuknya gumpalan darah (trombosis) di pembuluh darah arteri dengan jumlah keping darah (trombosit) rendah.

Namun demikian, kasus KIPI di atas sangat jarang dan risiko untuk mengalami sakit berat jauh lebih besar pada individu yang belum mendapat vaksinasi Covid-19.

Jika orangtua atau anak memiliki kekhawatiran seputar vaksinasi, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan terpercaya.

IDAI telah merekomendasikan pemberian vaksinasi Covid-19 pada khususnya jenis Coronavac pada anak golongan usia 6 tahun ke atas.

Pemberian vaksin Coronavac dilakukan secara intramuskular dengan dosis 3ug (0,5 ml) sebanyak 2 kali pemberian dengan jarak dosisi pertama ke dosis kedua yaitu 4 minggu.

Mengutip USA Today, FDA menyatakan tidak menemukan efek samping serius yang terkait dengan vaksin Covid-19.

Untuk anak-anak, risiko kematian akibat Covid-19 rendah. Namun, data kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa mereka belum sepenuhnya terhindar dari Covid-19.

"Dengan memvaksinasi anak-anak berusia 5 tahun ke atas, kami dapat membantu melindungi mereka dari tertular Covid-19 dan melindungi mereka dari penyakit parah, rawat inap, atau komplikasi jangka panjang Covid-19," Scott Pauley, juru bicara CDC, kata dalam email.

  • 3. Pengecualian vaksin Covid-19 untuk anak

Mengutip berita Kompas.com sebelumnya, IDAI mengingatkan bahwa vaksinasi Covid-19 anak tidak direkomendasikan dengan kondisi sebagai berikut:

  • Anak defisien imun primer

  • Anak menderita penyakit autoimun tidak terkontrol

  • Anak menderita penyakit Guillain-Barre Syndrome

  • Anak dengan kanker yang sedang menjalani kemoterapi/radioterapi

  • Anak yang menjalani pengobatan imunosupresan/sitostatika berat

  • Anak demam 37,5 Celcius atau lebih

  • Anak baru sembuh Covid-19 kurang dari 3 bulan

  • Anak dengan hipertensi

  • Anak dengan diabetes melitus

  • Anak dengan penyakit kronis

  • Anak dengan kelainan kongenital yang tidak terkendali

Rekomendasi IDAI tersebut juga memberi catatan bahwa vaksinasi Covid-19 bagi anak dengan kanker dalam fase pemeliharaan, penyakit kronis atau autoimun yang terkontrol, dapat berkonsultasi telebih dahulu dengan dokter yang bertanggung jawab.

  • 4. Vaksin Covid-19 tidak menyebabkan masalah kesuburan

Vaksin Covid-19 tidak menstimuli masalah kesuburan pada wanita maupun pria.

Mengutip situs resmi IDAI, tidak ada bukti yang sahih bahwa vaksinasi Covid-19 dapat menyebabkan gangguan kesuburan (infertilitas).

Vaksinasi Covid-19 bahkan direkomendasikan bagi wanita hamil, menyusui atau pun individu dalam rentang usia reproduksi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) juga menyatakan dalam situs resminya bahwa

Tidak ada bukti bahwa bahan vaksin Covid-19 akan menyebabkan masalah kehamilan di masa depan.

Demikian pula, tidak ada bukti bahwa vaksin Covid-19 memengaruhi pubertas.

Organisasi medis profesional yang melayani orang-orang usia reproduksi, termasuk remaja, menekankan bahwa tidak ada bukti bahwa vaksinasi Covid-19 menyebabkan hilangnya kesuburan.

Organisasi-organisasi tersebut juga merekomendasikan vaksinasi Covid-19 untuk pria dan wanita yang ingin memiliki bayi di masa depan.

  • 5. Vaksin Covid-19 tidak menyebabkan gejala virus maupun parasit

Mengutip Covid19.go.id, terdapat hoaks yang beredar di media sosial yang berisi daftar dugaan gejala Covid-19 varian Omicron.

Dalam daftar itu juga menyiratkan bahwa gejala tersebut sebenarnya adalah komplikasi dari vaksin Covid-19.

Tidak ada bukti bahwa daftar gejala yang tercantum dalam unggahan tersebut merupakan gejala komplikasi dari vaksin Covid-19.

Begitu juga tidak ada bukti bahwa varian Omicron menyebabkan seseorang menunjukkan gejala-gejala tersebut.

David O'Connor, Profesor Laboratorium Patologi dan Obat-obatan di University of Wisconsin-Madison, mengatakan bahwa sejauh ini belum cukup waktu atau kasus untuk dapat mengetahui apakah varian Omicron menunjukkan gejala yang berbeda dari varian lainnya.

Lebih lanjut, WHO juga mengatakan belum jelas apakah varian Omicron lebih menular atau menyebabkan penyakit yang lebih parah dibandingkan varian lainnya.

Professor Kim Shin Woo, epidemiolog dari Kyungpook National University menjelaskan bahwa vaksin Covid-19 justru tidak mengandung parasit apa pun karena ada sistem ketat yang diterapkan selama proses pembuatan untuk mencegah kontaminasi.



Sumber : Kompas

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "5 Fakta Vaksin Covid-19 untuk Anak"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel