Kolesistitis - Berita.Lagioke.Net

Kolesistitis


Kantong empedu merupakan organ kecil yang yang berada di area tengah perut, tepatnya di bawah organ hati.

Pada saat makan, kantong empedu berkontraksi agar empedu dapat bergerak dari kantong empedu melewati saluran empedu menuju usus halus.

Apabila saluran yang menghubungkan kantong empedu dengan usus halus tersumbat maka cairan empedu akan terperangkap di dalam kantong empedu.

Cairan empedu yang terperangkap akan menumpuk dan memicu iritasi atau peradangan pada kantong empedu. Kondisi inilah yang disebut dengan kolesistitis.

Kolesistitis ditandai dengan mual dan muntah, serta nyeri hebat pada perut, punggung, atau di bawah tulang belikat kanan.

Kolesistitis dapat terjadi secara akut atau secara tiba-tiba dan secara kronis atau berkembang secara bertahap dalam waktu yang lama.

Kolesistitis sering kali disebabkan karena saluran empedu tersumbat akibat adanya batu empedu.

Selain karena batu empedu, kolesistitis juga dapat disebabkan karena kelainan pada saluran empedu, tumor, kondisi medis, dan infeksi tertentu.

Jika tidak segera ditangani, kolesistitis dapat menyebabkan komplikasi serius yang terkadang membahayakan nyawa, seperti pecahnya kantong empedu.

Maka dari itu, penting untuk segera mendapatkan penanganan medis apabila mengalami kondisi ini.

Jenis

Melansir dari Drugs.com, kolesistitis terbagi ke dalam dua jenis berbeda yaitu:

  • Kolesistitis akut

Merupakan peradangan pada kantong empedu yang terjadi secara tiba-tiba dan mengakibatkan nyeri perut hebat yang terkadang disertai mual dan muntah

  • Kolesistitis kronis

Merupakan peradangan kantong empedu jangka panjang dengan gejala yang muncul berulang atau hilang timbul.

Kolesistitis kronis terjadi setelah seseorang mengalami serangan kolesistitis akut berulang kali.

Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri perut ringan yang hilang dan timbul, atau tidak mengalami gejala apa pun yang menyebabkan penderita tidak menyadari jika mengalaminya.

Jika dibiarkan, kolesistitis kronis akan memicu kerusakan pada dinding kantong empedu yang menyebabkan kantong empedu menebal dan terbentuknya jaringan parut.

Pada akhirnya, kantong empedu akan menyusut dan kehilangan kemampuannya untuk menyimpan dan mengeluarkan cairan empedu.

Gejala

Merangkum Medical News Today dan Very Well Health, gejala utama kolesistitis adalah nyeri hebat pada perut bagian kanan atas.

Rasa sakit ini umumnya muncul setelah mengonsumsi makanan berlemak dan lebih intens ketika penderita menarik napas panjang.

Rasa sakit atau nyeri pada perut tersebut dapat menjalar hingga ke punggung atau bahu kanan.

Selain nyeri perut, kolesistitis dapat ditandai dengan beberapa gejala berikut:

  • Perut kembung

  • Nafsu makan berkurang atau hilang

  • Mual

  • Muntah

  • Keringat berlebih

  • Demam dan menggigil

  • Feses berwarna pucat.

Penyebab

Dirangkum dari WebMD dan Mayo Clinic, kolesistitis terjadi ketika kantong empedu mengalami peradangan akibat saluran empedu tersumbat.

Penyumbatan saluran empedu dapat disebabkan oleh beberapa kondisi berikut:

  1. Batu empedu

Merupakan partikel keras yang terbentuk di dalam kantong empedu sehingga terjadi penumpukan cairan empedu akibat saluran empedu tersumbat

  1. Lumpur bilier atau endapan empedu

Merupakan cairan empedu yang menumpuk di dalam kantong empedu dan tercampur dengan kolesterol, serta kristal garam

  1. Tumor

pada saluran empedu, pankreas, atau hati

  1. Jaringan parut

atau bekas luka pada saluran empedu

  1. Penyakit infeksi

Infeksi virus, seperti HIV/AIDS, ataupun infeksi bakteri dapat memicu peradangan saluran empedu

  1. Gangguan pada pembuluh darah

Penyakit kronis, seperti diabetes, dapat merusak pembuluh darah dan menurunkan aliran darah ke kantong empedu yang menyebabkan kolesistitis.

Faktor risiko

Menurut Medical News Today, terdapat beberapa kondisi yang meningkatkan risiko terkena kolesistitis yaitu:

  1. Memiliki riwayat keluarga dengan batu empedu, terutama dari pihak ibu kandung

  2. Menderita penyakit Crohn

  3. Berusia lanjut atau lebih dari 50 tahun

  4. Memiliki berat badan berlebih atau obesitas

  5. Menderita diabetes

  6. Sedang hamil

  7. Mengidap penyakit jantung koroner

  8. Menderita gagal ginjal

  9. Mengalami hiperlipidemia, yaitu kondisi di mana kadar kolesterol dan lemak dalam darah terlalu tinggi

  10. Melakukan penurunan berat badan secara drastis dalam waktu cepat.

Proses persalinan yang lama saat melahirkan juga dapat merusak kantong empedu dan meningkatkan risiko mengalami kolesistitis dalam beberapa minggu setelahnya.

Diagnosis

Dikutip dari Johns Hopkins Medicine, diagnosis kolesistitis diawali dengan anamnesis mengenai gejala dan riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan.

Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan penunjang berikut untuk memastikan diagnosis:

  • Tes darah

Dilakukan untuk mengetahui jumlah sel-sel darah secara lengkap guna mendeteksi infeksi dan mengetahui fungsi hati.

  • Tes pencitraan, seperti

  1. Ultrasonografi (USG) Menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk melihat organ hati dan kantong empedu, serta memeriksa aliran darah melalui pembuluh darah

  2. Rontgen perut Menggunakan sinar X untuk menampilkan gambar bagian dalam tubuh dan mendeteksi adanya batu empedu atau kelainan pada organ di dalamnya

  3. CT scan Menghasilkan gambar bagian dalam tubuh secara lebih jelas daripada tes rontgen

  • HIDA scan (hepatobiliary iminodiacetic acid)

Pemeriksaan ini mengukur setiap pergerakan (kontraksi) dari kantong empedu saat mengeluarkan cairan empedu, serta mendeteksi adanya sumbatan pada saluran empedu.

Sebelum melakukan pemeriksaan, dokter akan menyuntikkan cairan kontras radioaktif ke dalam pembuluh darah penderita.

  • ERCP (endoscopic retrograde cholangiopancreatography)

Kombinasi dari pemeriksaan endoskopi dan rontgen yang dilakukan untuk mendeteksi dan mengatasi gangguan pada hati, saluran dan kantong empedu, serta pankreas

Perawatan

Merangkum Very Well Health dan Cleveland Clinic, penanganan kolesistitis umumnya dilakukan di rumah sakit.

Berikut beberapa metode perawatan di rumah sakit yang dapat mengobati kolesistitis:

  1. Berpuasa, untuk mengurangi beban kerja kantong empedu

  2. Pemberian cairan melalui infus (intravena), untuk mencegah dehidrasi

  3. Obat-obatan, seperti antinyeri untuk meredakan nyeri dan antibiotik utnuk mengobati infeksi

  4. Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP)

Merupakan prosedur yang dilakukan untuk mengangkat batu empedu atau lumpur bilier (endapan empedu) yang menyumbat saluran empedu.

Selain itu, dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk menjalani operasi pengangkatan kantong empedu yang disebut kolesistektomi.

Terdapat dua bentuk kolesistektomi yang dapat dilakukan, yaitu:

  1. Kolesistektomi sayatan terbuka

Pada prosedur ini dokter akan membuat sayatan besar, sekitar 12 sampai 20 sentimeter untuk mengeluarkan kantong empedu.

Prosedur ini umumnya dilakukan apabila terdapat jaringan parut pada kantong empedu atau pasien berisiko mengalami komplikasi lain.

  1. Kolesistektomi laparoskopik

Pada prosedur ini dokter membuat sayatan kecil pada perut guna memasukkan alat khusus yang digunakan untuk mengangkat kantong empedu.

Komplikasi

Dikutip dari Johns Hopkins Medicine, kolesistitis dapat menimbulkan beberapa komplikasi berikut:

  1. Infeksi dan penumpukan nanah (abses) di dalam kantong empedu

  2. Kematian jaringan (gangren) pada kantong empedu

  3. Robekan (perforasi) kantong empedu

  4. Peradangan dan infeksi pada organ pankreas (pankreatitis)

  5. Infeksi dan peradangan pada rongga perut (peritonitis).

Pencegahan

Melansir dari Medical News Today, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena kolesistitis, seperti:

  • Hindari makanan yang mengandung lemak jenuh tinggi dan pilih makanan rendah lemak, seperti buah dan sayur

  • Terapkan pola makan yang sehat dan teratur sesuai dengan jadwal makan

  • Rutin berolahraga

  • Jaga berat badan tetap ideal dan sehat

  • Lakukan diet secara bertahap atau perlahan-lahan jika memiliki berat badan berlebih.


Sumber : Kompas

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kolesistitis"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel